Minggu, 07 Juni 2015

Ini tentang yang aku rasa

Tak kutemukan lagi apa artinya diriku bagimu. Tak kurasakan lagi tatapan mata yang dulu. Rasa sayang itu, sebesar itu. Kini telah pudar, dan makin pudar, sampai nanti habis sudah rasa yang kauberi itu tak bersisa. Kau bilang masih butuh aku, untuk apa?

Aku tahu, ada yang berbeda darimu. Mungkin kau jenuh, kau bosan. Kau tak lagi cintai aku seperti dulu. Kau makin sepelekan aku. Aku tahu aku banyak salah, tapi haruskah kamu siksa aku?

Benar-benar, aku tak ada artinya lagi. Tuan, jika bosan katakanlah. Tinggalkan aku, sungguh, tak apa. Jangan tetap berada disampingku, lalu kau tinggalkan aku lagi nanti. Aku hidup cuma sekali, tapi harus sampai berapa kali lagi aku harus merasakan kehilanganmu? Tarik lalu ulur, diangkat lalu dijatuhkan. Kau perlakukan aku dengan semena-mena. Dan kau masih tetap dipenuhi pikiran akan kesalahan-kesalahanku yang menyakiti hatimu. Jadi seperti ini kamu membalas sakitnya?

Jangan katakan kau butuh aku atau kau sayang aku, kalau ternyata semua itu hanya akan berlangsung sementara, ketika kau kembali lantas kau tinggalkan aku lagi dan lagi. Aku hanya inginkan keseriusan, mampukah kamu? Sanggupkah kamu melawan semua hal ini? Simpan aku selamanya, atau tinggalkan aku dan jangan kembali. Tuan, ini sungguh berat rasanya, sudah berapa kali aku ingin menyerah? Aku tak tahu apa rasanya jadi kamu, tapi ingat ini: engkau pun tak tahu apa rasanya jadi aku. Bagaimana semua ini pengaruhi hidupku? Aku hancur perlahan. Apa kau juga sama?

Aku ini apa? Apakah aku mirip boneka yang bisa kau mainkan sesukamu? Dimana kamu perlakukanku semaunya. Dimana aku harus selalu turuti tiap-tiap perintahmu, kau kendalikan aku. Boneka, yang akan segera dibuang ketika kau tak lagi membutuhkannya. Aku tak mengerti jalan pikirmu, sungguh. Apa yang kau inginkan dariku?

Kau sudah dapat semua jawaban dari otakmu yang penasaran. Kau cari jawabannya, setelah kau temukan dari diriku, kau serap semuanya sampai habis tak tersisa. Kini aku benar-benar sudah nol.. Aku nol besar, tidak ada lagi yang ingin kamu ketahui dariku, semua rasa penasaranmu terjawab sudah. Apalagi yang menarik dariku?

Sungguh, jangan kembali jika apa yang akan kita lalui hanya akan jadi sementara lagi. Sungguh, aku sudah tak yakin lagi akan dirimu. Bukan tentang apa yang sudah lewat, atau saat ini, tapi akan masa depan. Masa depan kita. Dulu kita bilang, masa depan masih abu-abu, bisa ya, bisa tidak tentang akankah kita bersama. Tapi setelah selama ini, aku seakan dibukakan mata, bagaimana adanya jurang diantara kita. Sampai, aku tak lagi lihat abu-abu itu. Aku tak lihat apa-apa akan masa depan kita. Tak ada harapan. Kamu takkan kuat bersamaku, kamu akan tinggalkan aku. Lalu sekarang apa yang bisa kulakukan?

Aku...hanya bisa menunggu, menunggu dibuang, cepat atau lambat, ketika kau tak lagi butuhkanku.
.
.
.
Karna ketika boneka sudah lama usang dan rusak, sang pemilik akan bosan dan membeli boneka baru.

Kamis, 14 Mei 2015

Sakit

Ga pernah kebayang bakal jadi kaya gini. Semenyiksa ini, sesakit ini. Pikiran gua masih kacau, ga bisa tenang. Sumpah demi apapun, gua mau dia balik. Mustahil. Gua yg mulai semuanya. Salah gue, dan gua mau minta balik? Salah sendiri! Makan tuh dengkul kuda!! Rasain!!!

Sumpah ini nyiksa banget, sumpah gua gamau, gapernah mau kaya gini. Kenapa jantung gua gamau tenang dari waktu itu? Gua ga bisa lewatin semuanya sendiri, tanpa dia. Rasanya mau lari kerumahnya, liat wajahnya dan denger suaranya, peluk dia, tapi apa gua cuma bisa nangis, nangis, nangis. Harus bilang apa kalo gue ketauan nangis?

Bulan ke-19 jalan 20, haruskah berenti disitu? Kita bahkan belum 2 tahun. Keberadaan dia tapi udah dari bertahun-tahun lalu. Dulu oke, kita sahabatan, terus renggang, dan pacaran. Setelah putus? Dia bilang bisa jadi teman atau sahabat, entah kenapa gua ga rela. Bukan dalam artian gua mau dia jadi asing atau gimana, bukan. Gua mau dia jadi temen, tapi temen hidup gua, sama-sama sampe tua. Tapi dengan sikap gua yang kaya gini, apa pantas gua dampingin dia?

Gua ga pantes disisinya, tapi gua butuh dia. Ampun, rasanya bener-bener nyiksa, gua mau tau kabar dia. Sedih. Galau. Cengeng. Apa yang harus gua lakuin?? Gue pengen bisa muter waktu, balik ke masa-masa gua bikin kesalahan, dan memperbaikinya supaya dia ga tersiksa. Ga begini, dia pasti menderita, dia pasti menyesal kenapa dipertemukan dengan gue lalu milih gue. Jujur, gua ga pernah cinta sama orang sedalam ini. Dan ketakutan-ketakutan gua terjadi, dia sekarang pergi. Katanya mau bertahan apapun yang terjadi, tapi bener kan, dia ga kuat? Gua tau, itu sebabnya gua lakuin hal ini. Dengan tujuan biar dia bisa bebas lepas, temuin lagi senyumnya, bahagianya. Maaf, ternyata gue ga bisa nepatin janji, untuk nemenin dia sampe sukses kelak.

Please, somebody help me.... I can't through this all alone, without him, i'm nothing. I wanna be with him, stay by his side. Together until the death separate us. I'm useless now, I can do nothing. Just cry whenever i'm alone, feels the heart that broke into pieces. I want him, now and then. He's the man I want, only him, noone else. I love him, a lot, from the deepest of my heart. Please God, please. If i'm not besides him, please take a good care of him. Give him a happyness, either with or without me. Tell us, is this a good way? You show us the good way? To be like this? Is it much better if we break? God, I can't do this, I can't make it. Really, I don't wanna be like this. But, I have to. Sad, there's a fight inside of me. To let him go or to take him back. Eventhough, I know he won't come back to me. Never. He hates me as much. He hates me... God, I can't. Really, I can't.

Tanpamu

Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak. Tapi apa iya aku akan terus begini? Apa akan berlangsung tiap malam? Menangis sampai tertidur, dan beberapa menit kemudian terbangun lalu teringat dan menangis lagi sampai tertidur lagi, begitu terus, berulang sampai pagi. Tuhan, terimakasih karna memperkenalkanku pada sosok yang hebat. Dan terimakasih pula atas karma ini. Aku menyia-nyiakan kesempatan, dan kesempatan itu tak mungkin datang lagi.

Aku tak cukup baik baginya, bahkan mendekati baik pun tidak. Itu sebabnya dia harus pergi. Walaupun aku tak ingin dia pergi, sama sekali tak pernah menginginkan hal itu terjadi. Tapi dia memang pergi. Sakit sekali melihat punggungnya semakin menjauh, pada saat itu aku tahu dia takkan menoleh. Aku cuma pengganggu di hidupnya, cuma pengacau. Tak sepantasnya aku meminta lebih, menuntut banyak. Tapi, demi apapun, aku sayang dia, aku tak tahu mengapa aku berlaku kejam dan egois, padahal aku butuh dia. Sangat.

Aku mencintainya dengan cara yang salah; aku menyakitinya, lagi dan lagi, terus dan terus. Lalu kini dia bebas dari belenggu yg kubuat, kuharap dia bahagia diluar sana. Tapi aku tak menyangka melepaskannya pergi akan sesakit ini. Aku bahkan tak mampu mengistirahatkan diri, pikiranku melayang kemana-mana. Sakit sekali, sungguh. Aku tak pernah sesakit ini. Berharap ini cuma mimpi buruk, aku ingin segera terbangun, rasanya waktu begitu cepat. Apa aku bisa terbiasa tanpanya? Aku tak mau, aku tak bisa, aku tak sanggup. Aku ingin dia jadi yang terakhir, tapi dia sudah lelah akan sikapku. Mimpiku takkan terlaksana. Aku bahkan tak tahu itu emosi sesaat atau memang keinginan dia yg sesungguhnya. Tapi apapun itu, takkan membuatku kembali dalam pelukannya.

Aku begitu bodoh, menyia-nyiakan kesempatan yang kupunya ini. Bagaimana bisa aku melewati hari setelah ini? Sementara kabar darinya kini jadi kebutuhanku, siapa yang menyangka ini? Tapi aku aku memang selalu menunggu kabar darinya. Dan pelukannya, pelukan hangatnya, aku tak bisa merasakan kembali tempat yang nyaman itu. Bagaimana dengan kehadirannya? Kehadirannya dalam hidupku begitu besar porsinya. Dia sering kali membantuku melewati hari yang sulit. Disaat aku sedih atau senang, dia orang pertama yang kuberi tahu. Karna disampingnya, aku merasa kuat, aku merasa bisa melewati semuanya. Tapi kini dia pergi, aku bukan perempuan yang kuat lagi. Dengan pikiran-pikiran buruk itu yang menekanku, bagaimana jika aku mengikuti bisikan setan tersebut dan melakukan hal bodoh?

Aku tak bisa melakukannya sendirian, Tuhan, aku masih butuh dia. Karna dirinya aku mampu percaya pada diriku sendiri. Bagaimana sosok dia begitu penting bagiku. Aku ingin dia jadi yang terakhir. Tapi aku bahkan tak sanggup memantaskan diri disisinya, bagaimana mungkin aku bisa terus disampingnya? Dan disisi lain dia butuh orang disampingnya yang bisa men-support dirinya, artinya siapapun orangnya bisa, bukan? Jadi, dia tanpaku nampaknya bukan masalah. Aku bahkan tak sanggup memaafkan diri sendiri, aku marah pada diri sendiri karna telah begitu bodoh. Menjadi teman? Aku tak yakin, itu cuma semacam alasan dibalik 'tak-ingin-berhubungan-lagi' atau 'menjauhlah' bagiku. Sekalipun kita benar bisa berteman, aku tak ingin begitu, karna tentu akan ada banyak yang berbeda.

Aku sayang dia, sungguh-sungguh. Kalau tidak, mana mungkin aku relakan lakukan hal-hal itu? Aku lakukan itu cuma untuk dia, hanya dia, aku turuti mau dia seperti apa. Aku mau dia senang. Tapi dilain hari aku hanya bisa membuatnya marah. Ya, khilaf. Kata macam apa itu, aku sungguh malu pada diri sendiri. Aku benar menaruh harapan besar padanya, harapan menjadi calon masa depannya, teman hidupnya. Tapi apa yang kulakukan kini?

Ampuni aku, semua tingkah lakuku.

Aku tak kuat...

Aku tak sanggup...

Aku tak bisa...

Tanpamu.

Minggu, 08 Maret 2015

Sejauh Itukah Kamu?

Kita bermula dengan menaiki tangga, bersamaan. Menapaki satu demi satu anak tangga beriringan. Pelan-pelan naik dan naik berharap segera melihat puncak tangga diatas sana. Walaupun jauh, tak masalah, karna kita berjalan bersama.

Ditengah jalan, kau sangat bersemangat. Aku sedang beristirahat sejenak, terdiam duduk dalam salah satu anak tangga. Dan kau tetap berjalan tanpa lelah, kau bilang akan menungguku nanti. Jadi hanya aku yang beristirahat sejenak, melepas lelah.

Sadar-sadar, kau sudah sangat jauh. Aku terlonjak dan berlari mengejarmu. Berteriak, memanggil-manggil. Tunggu! Kau tak dengar. Menoleh pun tidak. Aku tak bisa mendekat. Kau sudah sangat jauh, padahal aku hanya beristirahat sebentar. Satu anak tangga kunaiki, dua anak tangga kau naiki.

Kau begitu antusias dengan apa yang ada di atas sana. Dan lupa akan aku yang tertinggal jauh. Langkahku semakin pelan, berpikir aku tak mampu mengejarmu. Aku melihat kebawah, apakah lebih baik aku turun saja? Tapi kau dulu bilang kita akan sama-sama sampai di atas sana. Jadi, mungkinkah kau akan menungguku suatu saat? Dan menyambutku dengan uluran tangan serta senyuman?

Aku berpikir mana yang lebih baik? Mundur? Atau terus maju? Tapi kau tampak tak bisa lagi dijangkau. Semakin jauh, dan terus menjauh. Bagaimana jika aku lelah? Tapi aku tak bisa--atau tak mau turun. Tak mungkin.

Lalu kuputuskan untuk biarkan keadaan begini. Biar aku berjalan di belakangmu. Sangat jauh. Di bawah sini. Memperhatikanmu terus naik dan naik. Kalau-kalau kau tersandung, aku bisa menahanmu, agar tak jatuh. Tapi syukurlah, kau belum pernah jatuh, jangan sampai. Aku tak mau kau terluka karna jatuh.

Walaupun aku kesepian, walaupun aku lelah, walaupun kadang aku ingin menyerah, aku akan di sana. Berpikir apakah kau ingat ada aku? Apakah kau sudah gelap mata dan lupa bahwa aku seharusnya berjalan di sampingmu? Aku hanya bisa bermain dengan imajinasi. Serta berdoa agar kau tidak kelelahan. Hanya bisa begitu, tak bisa apa-apa lagi.

Tapi lama kelamaan kau makin...bagaimana aku menjelaskannya? Intinya, aku sudah sangat letih. Letih mendongak keatas sana, berharap aku bisa melihatmu lagi. Tidak, kau tak terlihat lagi. Dan kau, secara sadar, sengaja atau tidak, melangkah agar kita bisa lebih jauh lagi. Tap. Tap. Tap. Dua-tiga anak tangga sekaligus, tanpa pernah menengok kebawah. Lupa daratan.

Pandanganku keatas sana semakin lama semakin kosong. Seakan tak punya harapan lagi. Aku benar-benar lelah. Gravitasi di bawah sana terlihat sangat iri padaku, inginkan aku jatuh. Langkahku berat. Aku menangis. Terluka. Dan tak ada yang peduli, kecuali diriku sendiri. Aku sendirian. Kesepian. Ingin menyerah kalau terus begini. Sakit.

Aku tak ingin begini. Sama sekali. Gravitasi itu masih mengharapkan agar aku jatuh. Aku lemah. Berulang kali tersandung, aku bangkit lagi. Tanpa ada yang menopang. Sampai rasanya tak kuat lagi. Tega. Tenaga apa yang kau miliki sampai mampu sejauh itu? Katakan, bagaimana jika aku jatuh dan tak mampu bangkit? Terguling sampai dasar, apakah kau tetap tak akan menoleh?

Jumat, 06 Maret 2015

Hurt

Harapan. Apa itu harapan? Apa harapan itu penting?
Keinginan. Apa itu keinginan? Apa tidak semua keinginan itu perlu dipenuhi?
Walaupun harapan itu sering berakhir kecewa, dan keinginan yang terkabul itu hanya dapat terhitung tangan.
Seseorang sepertimu, yang harus mendapatkan apa yang kamu mau, tidak akan mengerti. Terlalu ambisius? Atau justru egois?

Aku memang banyak maunya. Tapi tak semua yang kumau kukatakan begitu saja. Dan saat kukatakan aku 'ingin', aku tak sekedar ingin, asal kau tahu saja. Aku berharap. Aku menaruh harapan. Dan beberapa harapan itu kutaruh padamu, untuk bisa kamu bantu wujudkan. Tapi, tentu, semua hal tak mungkin berjalan mulus begitu saja. Tidak, ada banyak rintangan. Membuat harapanku musnah. Hilang.

Aku pernah dilambung harapan yang tinggi, walaupun kamu tak pernah membuatku berharap. Begitu antusiasnya aku, sampai membayangkan keinginan itu jadi nyata saja sangat senang. Namun, hal ini dan hal itu, mengikis pelan-pelan kemungkinan yang ada. Sampai-sampai, sudah merasa tak ada kemungkinan lagi. Mustahil.

Sedih? Iya. Kecewa? Tentu. Maka dari itu kukatakan lupakan saja, karna aku tak ingin berharap lagi. Sudah hilang, aku siap menerima kenyataan. Keinginanku tak mungkin jadi nyata lagi. Bukan berarti aku memandangmu rendah. Aku hanya sedih.

Bahkan hal sesepele ini saja mampu membuatku menangis. Cengeng. Iya, memang aku menahan dari awal saat aku punya harapan tinggi. Lalu karna suatu hal tidak bisa terpenuhi, aku sabar dan berharap lagi, begitu seterusnya sampai tak terlihat lagi ada kemungkinan lain. Dan disitulah aku tak bisa tahan kekecewaan ini lagi. Ternyata benar, sabar itu selalu ada batasnya.

Tapi, keadaannya memang begini, dan aku takkan bisa mengubah keadaan. Kalau memang tak bisa, yasudah, mau apalagi? Lalu aku harus terus sabar? Sampai kapan? Melamun sampai menangis tanpa suara apa akan membantuku sabar? Aku takut berharap lagi. Aku tak mau berharap lagi. Kalau yang kuharapkan hanya akan berakhir kecewa. Lebih baik aku membuang semua kemungkinan yang bisa menimbulkan harapan itu, agar aku tak kecewa lagi.

Bukan berarti aku melupakan semua hal yang kau lakukan untukku. Aku tau kau berusaha keras selama ini. Atau hanya aku yang kurang bersyukur? Atau kamu yang tidak bisa mengerti? Tentu kamu tidak akan mengerti, lisanku berkata tenang, tapi dalam hati aku merana. Seperti ada yang mencengkram kuat disana, namun aku selalu hasilkan senyuman dihadapanmu. Sekalipun kukatakan, apa yang bisa kamu lakukan?

Kau ingat, kau pernah bilang aku perempuan yang sederhana, tidak banyak maunya. Kau salah, aku punya banyak keinginan tapi tak kukatakan. Aku tak ingin jadi beban. Jika kupunya harapan, kukatakan apa mauku, dan disaat tidak dapat terwujud, aku tidak meluapkan kekecewaanku padamu. Karna, sekali lagi, aku tak ingin membebanimu.

Rasanya tangisku ini ingin meledak. Sakit sekali apa yang ada di dalam sana.

Lalu kalau aku mengeluarkan semua hasil tabungan air mata yang kutahan selama ini hasil dari kekecewaan itu sekarang, apakah aku lemah?
Apa aku nampak bagai gadis kecil menyusahkan yang merengek minta ini-itu?

Aku cuma...perempuan yang sedang kehilangan harapan, yang sedang kecewa dan sedih hatinya.
Aku hanya...perempuan yang banyak maunya, tapi keinginannya itu tak bisa terwujud, lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, dan terus sedari kecil begini.

Aku seharusnya sadar, aku tak pantas berharap. Aku tak pantas meminta. Apa yang kuinginkan biarlah semua jadi angan-angan saja. Sebuah omong kosong yang takkan terwujud. Sekecil apapun itu. Jangan pernah menaruh harapan pada orang lain. Jangan, jangan pernah katakan apa yang kuinginkan. Tidak ada yg peduli dengan apa yg kuingin, dan seberapa besar efeknya bagi kebahagianku. Bahagia? Apa aku bahagia? Aku bahkan tak tahu apa hidupku sampai saat ini bisa disebut bahagia?

-catatan seorang pesimistis yang sedang kecewa ingin menangis kencang namun tak bisa-

Minggu, 05 Oktober 2014

Itu kamu, Tuan..

Ada satu orang yang membuatku tak ingin berpaling
Ada satu orang yang membuatku tak ingin ditinggalkan
Ada satu orang yang yang begitu aku sayang
Ada satu orang yang begitu kurasa nyaman

Itu kamu, tuan, yang berada disisiku satu tahun belakangan ini
Ya, jangan ragukan aku, jangan berpikiran buruk tentangku lagi

Terkadang, aku merasa, aku mah apa si
Terkadang, aku berpikir, tak penting-penting amat bagimu
Terkadang, aku teringat, kamu melakukan banyak hal sampai saat ini
Terkadang, aku sadar, tentu aku tak seburuk yg kupikir bagimu

Akan tetapi, tuan, dengan siapapun orang yang mendampingimu sama saja bukan?
Maksudku, sekalipun itu bukan aku, tidak ada bedanya bukan?

Ada beberapa hal yang kutakutkan
Ada beberapa hal yang membuatku meragu
Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan
Ada beberapa hal yang aku tidak tahu

Begini, tuan, aku mengerti aku egois, tapi terkadang aku sedih melihat kita
Aku tau, tidak ada yang salah dari hubungan kita, hanya sedikit berbeda

Lalu aku bungkam
Lalu aku redam emosiku
Lalu aku diam
Lalu aku kembali menutup diriku

Bukannya apa, aku hanya tak mau jika sedikit saja aku bilang apa yg kurasakan, lalu kita bertengkar lagi
Karna, hei, tuan, kita berdua tau kau bisa pergi kapan saja, seperti waktu itu kau hampir meninggalkanku lagi

Apa aku salah?
Apa aku berlebihan?
Apa aku lemah?
Apa aku hanya beban?

Aku tau, tuan, jika kau membaca tulisan ini kau akan menyangkalnya
Tapi coba baca ulang semua ketikan penuh emosimu itu; selalu, walaupun mungkin tidak benar-benar, tapi seperti meminta untuk sudahi semua

Jadi aku tidak salah kan jika aku berpikir sedemikian rupa?
Jadi aku tidak salah kan jika aku bilang kamu terbebani olehku?
Jadi aku tidak salah kan jika aku berkata kamu tidak bahagia?
Jadi aku tidak salah kan jika aku berpendapat kamu bisa pergi kapan saja semaumu?

Iya kan? Bahkan mungkin jikalau kamu hanya jenuh dan bosan bisa-bisa saja kamu pergi, karna kamu nampak terpaksa
Lalu bagaimana jika aku bilang iya? Ku yakin kamu takkan tarik lagi kata-katamu dan beberapa minggu kemudian kamu temukan penggantiku yg lebih jelita

Aku, bukannya tidak percaya padamu
Aku, sekali lagi, hanya takut
Aku, bukannya menganggapmu abu-abu
Aku, sekali lagi, benar-benar takut

Kamu bahkan nampak tak begitu berniat untuk membuatku yakin padamu
Yang kamu lakukan hanyalah hal yang seharusnya tidak dilakukan jika kamu benar ingin pertahankan aku

Sesekali kamu begitu hangat dan merengkuh
Sesekali kamu begitu lalu hilang
Sesekali kamu nampak begitu jauh untuk kuraih
Sesekali kamu nampak seperti orang asing

Aku mengerti dengan kesibukanmu yg segunung itu, bukan masalah bagiku menerima semua kejutekanmu itu
Aku tau kamu lelah, tuan, silahkan jika kamu mau lampiaskan kelelahanmu itu, itupun tak jadi masalah buatku

Aku egois
Aku tak dewasa
Aku tidak berpikir logis
Aku bukan apa-apa

Katakan apa yang harus kulakukan atau apa yang harus benar-benar kupercayai
Tuan, aku tak suka dibuat bingung, dan aku takut, aku ingin diyakini

Katakan, apa bisa kita bersama sampai tua nanti?
Katakan, apa bisa aku percaya ucapanmu yang kadang tidak konsisten?
Katakan, kita akankah terus begini?
Katakan, kita bisa berdampingan sampai kapan?

Aku tidak tau lagi, aku hanya biarkan semua mengalir dan cuma bisa berharap akan kebersamaan kita agar abadi
Apa itu mungkin, tuan? Dan, oh, maaf jika aku tertutup lagi, aku hanya tak ingin 'kalimat itu' tercetus lagi darimu, jadi biarkan aku menahan semuanya sendiri

Tuan, aku punya pertanyaan baru; kamu (masih) benar2 sayang padaku atau kamu (hanya) sayang2 putus karna sudah berkorban sejauh ini dan menjalani hubungan sampai selama ini? :)

Kamis, 10 April 2014

You?

When you do something, and no one appreciate it;
When you try to be honest all the time, and no one trust what you say;
When you blame to yourself, and no one understand how fragile you are;
When you do something to make other happy, but they never see it;
When you try your best, but they ignore it, meaningless;
When you just want somebody to help you, but they don't want to;
You stop to do what you want to do;
You keep everything yourself;
You always blame to yourself although you doesn't wrong;
You hurt and really want to scream;
You broke and down;
You start to do everything by your own;
Then, you are THE WORST.




Don't ever think like that again. You are worse if you think like that all the time, stop it. Somebody in somewhere must be love and care everything about you from your head to toe. So, look at the mirror and just smile. You're not too bad like you always think. Everything is gonna be okay, just remember that you are not alone. God bless you always. :) xoxo